Selasa, 02 September 2008

Agama jadi gurauan..!?

Mengapa 4JJ1 Menganjurkan manusia untuk lebih sering menangis daripada tertawa? Apa yang mesti ditangisi? Mengapa ditangisi? Kemudian, apa yang perlu ditertawakan?
Ada banyak macam tangisan; tangisan rindu, cinta, keharuan, perpisahan, penantian, dsb.
Tidak semua tangisan dianjurkan, menangis yang di anjurkan adalah tangisan meratapi dosa, karena setiap perbuatan dosa menjadikan kita kehilangan sesuatu yang kita anggap cahaya wujud, maka saat itulah kita menangis.
Bulan ramadhan yang lalu dan sekarang ini yang kita jalani adalah bulan ratapan dan pengampunan dosa. Pada saat itulah seluruh penghambaan jadi jaminan untuk kembali fitrah. Ramadhan bulan mulia penuh hikmah, bulan ini adalah bulan taubat massal.
Salah satu bentuk taubat adalah menyesali dosa. Menangis sebagai ekspresi taubat. Siapa yang akan bisa tertawa karena kelakar, ketika kesedihan atas dosa yang menimbun kemanusiaan seseorang menggunung, sementara kesempatan untuk meminta ampunan-NYA semakin sempit?
Ironisnya, ditanah air RI ini, pada bulan Ramadhan kemarin dan tahun ini menjadi ajang gelak tawa insan entertainment yang di tampilkan oleh media massa. Terutama televisi. Kesaklaran bulan Ramadhan dinodai oleh pelawak dan pesinetron.
Layakkah "RITUS_KOMERSIAL" yang mengumbar tawa dengan menjenakan saklaritas Ramadhan disuguhkan kepada masyarakat luas yang mayoritas muslim? Mengapa paradigma keberagamaan yang suci bergeser menjadi pemahaman tanpa makna dengan menjenakakan agama.
Hancur sudah amal sebulan puasa dengan dosa yang tak terasa.
Suka atau tidak, kita harus mengakui bahwa telah terjadi penodaan kolektif dan sistematis terhadap simbol-simbol agama dengan kedok kebebasan berekspresi, itu tidak hanya terjadi di denmark atau negeri nun jauh disana, tapi dirumah kita setiap saat.
"walan tardho ankal yahudu wan nashara hatta tattabi'a millatahum" (muhsin labib)

Senin, 01 September 2008

Yang Seleb Berdakwah

Berdakwah adalah aktivitas mulia yang merupakan salah satu bagian dari prinsip "amar makruf nahi munkar" sedemikian pentingnya dakwah sehingga bila tidak dilakukan sesuai dengan batasan-batasan normatifnya akan menimbulkan efek negatif.
Ustadz berarti guru besar, ulama, kyai. Namun di indonesia kata ustadz sudah mengalami penyempitan makna sehingga ia bisa di sandang atau di sandangkan secara acak oleh siapa aja, apalagi bila telah dinyatakan lulus seleksi lewat polling sms dari penggemar. Sebutan 'urtadz' bukan lagi simbol kompetensi akademis. Tapi produk industri media berorientasi pada pasar dan modal.
Bagi kalangan lain yang cenderung kritis, fenomena ustadz seleb yang sering tampil di teve, termasuk ustadz yang menjadi bintang iklan, adalah bagian dari skenario global yang sering disebut modernisasi, dengan tujuan pengikisan militansi dan pemusnahan norma-norma fundamental agama dan budaya timur.
Ada 6 retorika ustadz seleb.
*ustadz retorika cengeng.
*ustadz retorika cabul.
*ustadz retorika jenaka.
*ustadz retorika horor.
*ustadz retorika dukun.
*ustadz retorika gaul.
Pembaca, inikah produk-produk mesin industri dan corong-corong kapitalisme yang bertujuan mengikis militansi dan mendesakralisasi norma-norma islam?